19 Desember 2010

Infografik: Tata Titah Raja Jawa

SOROT 114
Infografik: Tata Titah Raja Jawa
Birokrasi Keraton Yogya bertahan di tengah pasang surut zaman.
JUM'AT, 17 DESEMBER 2010, 22:19 WIB
Nezar Patria

• VIVAnews

Menilik Keraton Yogya

SOROT 114
Menilik Keraton Yogya
Sultan Yogya tak hanya berkuasa di keraton, tapi juga punya kaki di pemerintahan daerah.
JUM'AT, 17 DESEMBER 2010, 22:14 WIB
Pipiet Tri Noorastuti
Abdi dalem Kraton Yogyakarta (ANTARA)

VIVAnews - Berbalut surjan dan jarik, empat bupati dan wali kota Yogyakarta berjalan jongkok. Dengan cara laku ndodok itu, mereka mendekati singgasana Sultan Hamengkubuwono X. Mengekor di belakang adik-adik Sultan dan kerabat keraton, mereka menunggu giliransungkeman.

“Maju,” titah Sri Sultan.

Mereka bergerak, mencium lutut Sultan. Lalu hening.

"Mundur," suara Sultan kembali terdengar. Itu tanda satu sungkeman berakhir, dan bertukar giliran. Satu per satu. Mereka menghaturkan sembah. Mencium lutut sang raja Jawa.

Digelar setiap Idul Fitri, tradisi sungkemandimulai dua setengah abad silam, sejak Sultan Hamengkubuwono I bertahta. Ritual itu disebut Grebeg Syawal Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Yang hadir, keluarga dan abdi dalemkeraton. Itu simbol hormat dan patuh kepada raja.

Bupati dan walikota? Lima pejabat teras itu memang bukan abdi dalem keraton yang bekerja untuk raja. Tak juga ada gelar bangsawan sebagai tanda kerabat keraton. Secara struktural, mereka bawahan Sultan sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lantas mengapa bupati dan walikota ikut mencium lutut raja?

Seorang kerabat keraton, Heru Wahyukismoyo, mengatakan, kehadiran bupati dan wali kota di setiap Grebeg Syawal bersifat fakultatif. Bukan titah Sultan. Juga bukan kewajiban. “Mereka yang tak punya hubungan kekerabatan dengan keraton biasanya mengajukan diri ikut sungkeman,” ujarnya.

Meleburnya para abdi republik ke dalam tradisi keraton, juga tampak pada upacara pemandian pusaka (jamasan). Soalnya, tiap kabupaten dan kotamadya punya pusaka sendiri pemberian raja. Pusaka itu menjadi identitas daerah. Senjata ini harus dimandikan, atau dibersihkan setahun sekali. Sesuai adat keraton.

Grebeg Syawal dan Jamasan adalah potret betapa keraton masih menjadi patokan kekuasaan politik dan budaya di Yogyakarta. Tentu, itu tak lepas dari posisi Sultan, yang sekaligus gubernur bagi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Peperintahan Karaton

Di tengah kesibukannya sebagai gubernur pemimpin empat kabupaten dan kotamadya, Sultan Hamengkubuwono X tetap menjalankan perannya memimpin kerajaan. Sebagai raja bertahta (Ngarso Dalem), ia bertanggung jawab menjalankan roda pemerintahan keraton (Peperintahan Karaton).

Layaknya sebuah negara, Peperintahan Karaton punya struktur birokrasi dengan tugas dan fungsi sampai ke tingkat bawah. Konsepnya semacam departemen, dan dinas dalam birokrasi modern. Lembaga pembantu Sultan ini dipegang oleh para pengageng.

Tulang punggung pemerintahan keraton ada pada di Pengageng Sri Wandowo. Itu semacam sekretariat negara. Jabatan itu kini dipegang adik kandung Sultan, Gusti Bandoro Pangeran Haryo (GBPH) Joyokusumo. Dia bertugas sebagai perantara, antara Sultan danpengageng, atau abdi dalem lainnya di kawedanan.

Dalam memimpin keraton, Sultan tak lagi terjun langsung ke dalam rapat-rapat, atau pembahasan program. Sultan hanya memberikan persetujuan, atau instruksi. Semua titahnya dituang dalam surat keputusan (dhawuh dalem), yang ditulis dalam bahasa Jawa halus.

Dalam setahun, Sultan setidaknya membuat lebih dari tiga keputusan. Terakhir, dia menaikkan gaji dan program pendidikan bagi abdi dalem. “Segala keputusan yang diambil Sultan, akan dilaksanakan hingga tingkat bawah melalui Gusti Joyo,” kata GBPH Yudhaningrat, yang juga adik Sultan.

Walau tak terlibat langsung di rumah tangga keraton, Sultan tetap muncul pada setiap upacara besar keraton. Misalnya Grebeg Syawal dan Pisowanan Ageng. Sultan tetap menjadi simbol tertinggi keraton.

Di Peperintahan Karaton, Gusti Joyo adalah nomor satu. Dia mengendalikan sejumlahkawedanan, lembaga yang menangani aneka urusan keraton. Mulai dari perawatan museum dan benda antik, organisasi adat dan budaya Jawa, tanah, bangunan, tari, gamelan, makanan tradisional, gelar, hingga upacara kesultanan.

Setiap kawedanan punya pemimpin, kantor, dan abdi dalem. Mereka berkantor di lingkungan keraton, wajib pakai surjan, kemben, dan jarik. Sementara yang beraktivitas di luar, boleh pakai busana modern. Umumnya batik.

Abdi dalem bekerja berdasar aturan rumah tangga keraton, dan surat dawuh dalem. Sekitar 1.000 dari 3.000 abdi dalem mendapat bayaran. Kecil memang, hanya Rp5-35 ribu sebulan. Bayaran ini sebagai simbol kasih sayang raja kepada rakyatnya yang mengabdi.

"Hampir semua abdi dalem punya pekerjaan lain guna menopang ekonomi keluarga. Sebagai abdi dalem, saya bekerja setiap hari. Saya punya 12 hari untuk mengurus sawah," kata Joyo Pradata, yang menjadi abdi dalem sejak 1975.

Selain mendapat kucuran dana APBN, keraton mencukupi kebutuhan internal melalui pengelolaan aset. Ada sejumlah tanah milik keraton yang disewakan kepada masyarakat. "Pemasukan ini kemudian diolah bendahara keraton untuk rumah tangga keraton," kata Gusti Yudha. Dia tak menyebutkan berapa persisnya kebutuhan dan belanja keraton setiap tahunnya.

Kekuasaan menciut

Menilik sejarah, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, pada mulanya, adalah negara dependen di bawah Kerajaan Belanda. Memiliki wilayah kekuasaan sendiri, sekaligus berwenang penuh mengelola sumber daya ekonomi.

Meski di bawah Sultan, pada zaman kolonial itu pemerintahan dibagi dua. Pertama,Parentah Ageng Karaton, untuk urusan domestik keraton. Kedua, Parentah Nagari, untuk urusan luar. Dalam tugasnya, Sultan dibantu Pepatih yang dulunya adalah kepanjangan tangan Belanda.

Restorasi pemerintahan keraton terjadi pada masa Sultan Hamengkubuwono IX. Keraton memutuskan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai konsekuensinya, administrasi keraton dijalankan berdasar peraturan daerah di Indonesia.

Parentah Ageng Keraton masih bertahan. Namun, tak lagi menyentuh ranah politik. “Jadi, bisa dikatakan kekuasan keraton menciut. Dulunya punya kekuasaan politik, layaknya sebuah negara merdeka, kini hanya berkuasa secara kultural,” kata sejarawan UGM, Djoko Suryo.

Pemerintah pusat mengakomodasi kekuasaan Sultan lewat aturan keistimewaan. Aturan ini memuat ketetapan raja bertahta sebagai kepala daerah atau gubernur. Tak seperti nasib raja-raja lain di Nusantara, Sultan masih punya jangkauan politik di kancah pemerintahan modern.

Walau Sultan punya dua kaki di pusat pemerintahan daerah dan keraton, namun tak ada struktur yang mengikat keduanya. Tiap pemerintahan berjalan sendiri. Keraton bergerak sesuai sistem tata praja. Pemerintahan daerah berjalan sesuai peraturan perundangan yang berlaku di seluruh Indonesia.

Pengamat politik lokal Universitas Gadjah Mada, Arie Dwipayana, memberi contoh menarik.

Adalah GBPH Yudhaningrat, yang hendak berkarier sebagai birokrat. Meski dia Panglima Keprajuritan Keraton, Yudhaningrat tetap melewati aturan kepegawaian. Dia lalu mendaftar sebagai calon pegawai negeri sipil.

Begitu juga soal kenaikan pangkat. Sultan tak mencampuradukkan gelar keraton dan pangkat kepegawaian. “Buktinya, Yudhaningrat tak punya posisi penting dalam birokrasi pemerintahan,” kata Arie.

Meski demikian, tautan kultural antara sistem pemerintahan daerah dan keraton tak terhindarkan dalam konsep keistimewaan ini. Arie menyebutnya sebagai politik kebudayaan. "Politik kebudayaan ada untuk mengikat struktur politik modern ke sistem politik tradisional,“ ujarnya.

Prosesi Grebeg Syawal yang diikuti bupati dan wali kota adalah potret paling nyata. “Kalau dipikir-pikir itu kan sama saja memposisikan bupati sebagai abdi dalem,“ ujar Arie. “Dulu juga pernah ada sistem di mana setiap bupati diberi gelar KRT. Tetapi sekarang sudah tidak berlaku.”

Kini, keistimewaan yang mengakomodasi kekuasaan Sultan di struktur pemerintahan modern, itu tengah diuji di tingkat pusat. Dalam draf Rancangan Undang-undang Keistimewaan Yogyakarta, terbuka kemungkinan gubernur Yogyakarta bukan berasal dari kalangan keraton.

Jika itu terjadi, Sultan kelak hanya menjadi simbol kultural. Dengan posisi yang mungkin lebih baik dari raja-raja lain di nusantara. (Laporan Juna Sanbawa dan Fajar Sodiq, Yogyakarta | np)

• VIVAnews

27 November 2010

Ida Kusumah Ingin Kumpul Bareng 'Golden Girl'

Ida Kusumah Ingin Kumpul Bareng 'Golden Girl'

Rochmanuddin
26/11/2010 08:41 | Obituari
Liputan6.com, Depok: Sebelum mengembuskan nafas terakhir, Ida Kusumah pernah menyampaikan keinginannya. Pemeran Oma dalam Cinta Fitri ini ingin bertemu dengan Golden Girl.

Namun keinginan tersebut belum tercapai hingga ajal menjemput. "Dia cuma bilang pengen ngumpul sama Golden Girl (Nani Wijaya, Connie Suteja) dan semua pemain Cinta Fitri," ujar Verlita Evelin, saat ditemui di rumah sakit Puri Cinere, Jakarta, Kamis (25/11) malam.

Menurut Verlita, kondisi kakaknya tak mencurigakan pada malam itu. Bahkan almarhumah terlihat sangat ceria seperti hari-hari biasanya. "Tadi yang cuma kita lihat Oma senang banget hari ini, ketawa-ketawa. Dia cuma ngomel-ngomel soal baju," ungkapnya.

Tak heran jika Verlita mengalami rasa syok yang cukup mendalam. Pasalnya, meninggalnya almarhumah kakaknya tergolong mendadak.

"Kita ketawa-ketawa, makanya kita juga syok. Makanya tadi Dinda Kanya Dewi teriak Oma pingsan. Dia tenang banget, dia tidur terus kejang-kejang terus ngorok terus sudah langsung ke Rumah Sakit Cinere sini," tuturnya. (MEL)


Ida Kusumah, Dedikasi untuk Akting Hingga Napas Terakhir

Jumat, 26/11/2010 05:27 WIB
Ida Kusumah, Dedikasi untuk Akting Hingga Napas Terakhir
Syubhan Akib - detikhot
Gambar

Ida Kusumah (Facebook)
Jakarta
Indonesia berduka, secara mengagetkan bintang film legendaris Ida Kusumah meninggal Kamis (25/11/2010) malam di lokasi syuting 'Cinta Fitri'. Ida menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 71 tahun meninggalkan 56 film yang pernah dibintanginya.

Wanita yang bernama asli Siti Endeh Ida Hendarsih Atmadi Kusumah pertama kali memulai memasuki dunia showbizz pada tahun 1955. Ketika itu, wanita yang menikah dua kali ini bermain di film berjudul 'Puteri Revolusi' arahan sutradara Ali Yugo.

Di film tersebut Ida beradu akting dengan aktor terkenal Sukarno M. Noor yang merupakan ayah dari aktor Rano Karno. Setelah itu tawaran main film mengalir dengan deras ke wanita kelahiran 31 Agustus 1939 itu.

Berbagai film yang dibintanginya hingga sekarang menjadi legenda mulai dari 'Catatan Si Boy II', 'Si Kabayan' dan 'Gadis Kota' hingga 'Olga dan Sepatu Roda' telah mencetak nama wanita ini kedalam sejarah besar perfilman Indonesia. Berita meninggalnya Ida, cukup mengagetkan banyak pihak.

"Shireen lagi di lokasi nangis-nangis. Dia tadi telepon masih shock, jadi belum bisa cerita banyak. Aku cuma bisa nenangin dia aja, memang kejadiannya pas syuting," ujar Fanny Bauty, ibunda Shireen Sungkar saat dihubungi detikhot melalui telepon, Kamis (25/11/2010) malam.

Shireen Sungkar sendiri adalah salah satu pemain sinetron Cinta Fitri yang bermain bersama Ida Kusumah. "Saya hanya bisa menenangkan Shireen tadi dia belum bisa menceritakan kejadiannya," lanjutnya.

Di dunia akting, aktris yang juga membintangi film 'Ratu Ular' ini kebanyakan mendapat peran antagonis yang membuatnya banyak dibenci para penontonnya. Tapi kalau dilihat dari sisi seni, anggapan negatif itu malah menunjukan keberhasilan Ida Kusumah menjiwai setiap peran yang ia dapatkan.

Total sudah 56 film dan 2 sinetron berhasil dibintangi Ida Kusumah selama 55 tahun kariernya di industri perfilman Indonesia. "Kaget banget, lagi dilihat sinetronnya, Oma dikabarkan meninggal," ungkap pembaca detikHot bernama Lucky Anggraeni.

Dan hingga akhir hayatnya, pemain film Cintapuccino ini terus menunjukan dedikasi yang tinggi. Bahkan Ida menghembuskan nafas terakhir ketika menyelesaikan tugasnya sebagai Oma di sinetron 'Cinta Fitri' yang saat ini masih tayang di televisi.

"Hidup dia untuk 'Cinta Fitri'. Dia itu banyak sekali tawaran, tapi dia mengaku nggak diambil, itulah integritas dia untuk 'Cinta Fitri'," ujar Produser 'Cinta Fitri' Manoj Punjabi yang ditemui di rumah duka, Perumahan Mahkota Mas blok O6 No. 17, Cipondoh, Tangerang, Jumat (26/11/2010).

Ketika sedang proses syuting Cinta Fitri season 6, kru mencoba membangunkan Ida Kusumah yang sedang menunggu giliran take. Namun ketika dibangunkan, Ida Kusumah ternyata sudah tidak sadar. Dan ketika dibawa ke Rumah Sakit Puri Cinere sekitar pukul 20.30 WIB, ia sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

Kejadian ini tentu membuat kaget banyak pihak. Apalagi, 'Cinta Fitri' saat ini sudah dipenghujung episode dan menurut jadwal yang ditetapkan, syuting akan berakhir pada hari Sabtu (27/11/2010).

Selamat jalan Oma, semoga mendapat tempat yang layak disisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

(ich/ich)

Didi Petet - Deddy Mizwar Kenang Cerianya Ida Kusumah

Jumat, 26/11/2010 09:16 WIB
Didi Petet - Deddy Mizwar Kenang Cerianya Ida Kusumah
Pebriansyah Ariefana - detikhot
Gambar

Deddy Mizwar (Pebriansyah/detikhot)
Jakarta
Sejak tahun 1955, Ida Kusumah sudah berkecimpung di dunia akting. Kini Ida telah tutup usia. Dua aktor senior Didi Petet dan Deddy Mizwar pun mengenang Ida yang selalu ceria.

"Kalau ketemu beliau itu ketawa aja dari datang sampai pulang," ujar Didi ditemui di rumah duka, Perumahan Mahkota Mas blok O6 No. 17, Cipondoh, Tangerang, Jumat (26/11/2010).

Senada dengan Didi, Deddy pun melihat Ida sebagai sosok yang sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Bintang film 'Si Kabayan dan Gadis Kota' itu selalu menghadirkan suasana bersahabat dan menyenangkan.

"Dia bekerja dengan gembira. Ketawa terus nggak ada cerita sedih. Jadi bekerja lebih menggairahkan dan nggak loyo. Selalu kelihatan semangat," tutur Deddy.

Pemeran Oma di sinetron 'Cinta Fitri' itu juga paling rajin menghadiri acara penghargaan untuk insan perfilman. Ia juga berencana untuk datang dalam acara pembacaan nominasi Festival Film Indonesia yang akan digelar di Batam pada 28 November mendatang.

"Penghargaan untuk dia di dunia perfilman itu luar biasa. Nggak ada Ida Kusumah kedua," tandas Didi.

(yla/yla)

Anak Ida Kusumah: Dandanan Mami SelaluMatching

Jumat, 26/11/2010 08:31 WIB
Anak Ida Kusumah: Dandanan Mami SelaluMatching
Pebriansyah Ariefana - detikhot
Gambar

Ida Kusumah (dok.MD)

Jakarta
Selain dikenal dengan gaya bicaranya yang terkesan cerewet, cara berpakaian Ida Kusumah pun selalu jadi perhatian. Menurut sang anak, Ida memang selalu matching.

"Salah satu yang unik dari mami, dia itu kalau dandan selalu matching," ujar putra bungsu Ida, Dolly Galih Tobing saat ditemui di rumah duka, Perumahan Mahkota Mas blok O6 No. 17, Cipondoh, Tangerang, Jumat (26/11/2010).

Di antara sekian banyak warna, perempuan yang menghembuskan nafas terakhirnya di usia 71 tahun itu lebih menyukai pink. Apalagi soal kostum syuting, Ida merasa nyaman jika memakai baju pink.

"Maka nggak heran kalau barang mami kebanyakan pink dan ungu," jelas Dolly.

Ida yang memiliki empat orang anak itu berencana untuk berkumpul dengan keluarganya pada Lebaran tahun depan. Menurut sang anak, keluarga besar mereka memang jarang sekali punya kesempatan untuk bertemu bersama. Sayang Tuhan berkehendak lain. Ida menghembuskan nafas terakhirnya, Kamis (25/11/2010) karena serangan jantung.

(yla/yla)

Connie Sutedja: Ida Kusumah Menghidupi Diri Sendiri

Jumat, 26/11/2010 11:33 WIB
Connie Sutedja: Ida Kusumah Menghidupi Diri Sendiri
Pebriansyah Ariefana - detikhot
Gambar

Ida Kusumah (dok. MDEntertainment)
Jakarta Aktris Connie Sutedja termasuk salah satu orang yang sangat kehilangan akan kepergian Ida Kusumah. Apalagi, Connie dan Ida sudah bersahabat sejak puluhan tahun lalu.

Sebelum meninggal, Ida sempat curhat pada Connie. Curhatan itu terkait masalah pribadi yang tidak bisa diceritakan oleh Connie.

"Cerita itu buat saya nggak bisa tidur. Sempat jadi pikiran, duri di dalam daging," tutur aktris 66 tahun itu saat ditemui di rumah duka Ida Kusumah, Perumahan Mahkota Mas blok O6 No. 17, Cipondoh, Tangerang, Jumat (26/11/2010).

Pada Connie, Ida juga sempat menyampaikan kegelisahannya. Kegelisahan itu terkait sebuah rumah yang baru dibeli oleh pemeran Oma dalam sinetron 'Cinta Fitri' tersebut. Rumah tersebut diharapkan bisa ditempati awal 2011 mendatang.

"Dia kan lagi beli rumah. Mungkin karena Cinta Fitri mau berhenti, dia juga bingung incomenya gimana. Dia menghidupi diri sendiri yah, makan sendiri. Dia mengeluh itu. Semua masih terngiang. Ceu Ida......," ujar Connie sambil menangis kejer.

Bintang film 'Si Pitung' itu sangat terpukul dengan kepergian Ida. Apalagi baru Senin (22/11/2010) lalu mereka mengobrol soal rencana menghadiri pembacaan nominasi Festival Film Indonesia 2010 di Batam.

"Dia meninggalnya enak, nggak nyusahin orang, dalam keadaan cantik," imbuh Connie.

Di mata Connie, rekannya di Golden Girls itu adalah seorang diva di dunia perfilman. Ida mendedikasikan hidupnya untuk akting sampai menghembuskan nafas terakhirnya.

"Sejak zaman Bung Karno dia sudah menjadi artis. Di zaman Bung Karno, dia sudah sering ke istana. Dia jago jaipong," kenangnya.


(eny/eny)

21 November 2010

Perangi Perbudakan Seks,Ibu Ini Jadi Pahlawan

Perangi Perbudakan Seks,Ibu Ini Jadi Pahlawan
“Perdagangan manusia adalah kejahatan yang keji, hal yang memalukan bagi kemanusiaan"
MINGGU, 21 NOVEMBER 2010, 17:44 WIB
Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu

VIVAnews - Stasiun televisi berita CNN setiap tahun menganugerahkan gelar pahlawan kepada sepuluh orang dari berbagai negara yang berjasa memperjuangkan dan memajukan kemanusiaan di profesi masing-masing.

Tahun ini, diantara kesepuluh penerima penghargaan, seorang aktivis anti perbudakan perempuan mendapatkan perolehan suara terbanyak dan berhak memperoleh hadiah tambahan sebesar US$ 100.000 atau sekitar Rp. 895 juta.

Sebagai finalis dia juga menerima uang sebesar US$ 25.000 (sekitar Rp. 223 juta). Dengan demikian, yang bersangkutan menerima total hadiah uang lebih dari Rp 1 miliar.

Dia bernama Anuradha Koirala. Perempuan kelahiran Nepal 61 tahun silam ini telah berjuang sejak 1993 untuk memberantas perdagangan wanita di negaranya.

Melalui yayasan yang dia pimpin, Maiti Nepal, Koirala telah menyelamatkan dan membebaskan 12.000 perempuan dari cengkeraman perbudakan seks. Inilah yang membuat namanya menjadi yang teratas dari kesepuluh pahlawan versi CNN.

“Perdagangan manusia adalah sebuah kejahatan yang keji, sebuah hal yang memalukan bagi kemanusiaan,” ujar Koirala usai diperkenalkan pada acara penobatan gelar kepahlawanan CNN, yang disiarkan langsung oleh stasiun TV itu di Los Angeles, Sabtu malam waktu setempat, 20 November 2010.

“Saya menyerukan semua orang untuk bergabung menciptakan dunia tanpa perdagangan manusia. Kita perlu melakukan ini untuk putri-putri kita,” lanjutnya lagi.

Koirala pertama kali diperkenalkan oleh aktris Demi Moore dan suaminya Ashton Kutcher. Kedua selebritis Hollywood ini mendirikan yayasan bernama DNA yang bertujuan untuk memberantas perbudakan anak di seluruh dunia.

Moore terkesan oleh Koirala yang tanpa lelah mendatangi rumah-rumah bordil dan menjaga perbatasan Nepal-India dari kemungkinan penyelundupan wanita untuk diperdagangkan sebagai budak seks.

“Sejak tahun 1993, dia telah menyelamatkan 12.000 perempuan. Melalui yayasannya, dia menyediakan mereka lebih dari tempat berlindung, dia menciptakan rumah bagi perempuan-perempuan ini. Di sini mereka memulihkan diri, bersekolah, belajar keterampilan, dan mendapatkan cinta,” ujar Moore.

Koirala adalah satu dari sepuluh pahlawan versi CNN. Mereka dipilih dari 10.000 nominasi pahlawan dari 100 negara. Pemilihan dilakukan oleh para pengunjung laman CNN selama delapan minggu. Kesepuluh pahlawan CNN adalah para aktivis kemanusiaan yang mendedikasikan dirinya untuk membantu sesama.

Mereka memperoleh masing US$ 25.000 (Rp. 223 juta). Koirala adalah nominator dengan suara terbanyak sehingga mendapat tambahan hadiah uang US$ 100 ribu. Dana sebesar itu untuk membantu meningkatkan kinerja yayasan yang dikelola Koirala. (sj)

• VIVAnews