Senin, 04/05/2009 08:23 WIB
Mari Berbagi Makanan, Bukan Bom
Andri Haryanto - detikBandung

Bandung - Dalam berkegiatan, mereka tak memiliki garis organisasi dan bergerak secara merdeka. Mereka tak perlu sayuran indah seperti yang menghias rak sayuran di supermarket. Selagi bisa dikonsumsi, mereka akan oleh menjadi makanan dan didistribusikan secara gratis kepada siapapun yang ingin mencicipinya.
Mereka menamakan kelompoknya dengan label Food Not Bomb (FNB) Bandung. Sebuah kelompok yang mengadopsi gerakan anti nuklir di Cambridge, Massachusetts pada tahun 1980-an. Sebuah gerakan yang menentang peperangan dan kemiskinan di belahan dunia. Terlebih isu perang nuklir sangat mengancam ketika itu.
Pola kegiatan yang dilakukan adalah dengan pengadaan, pendistribusian, sampai dengan melayani produk olahan makanan kepada siapapun dan dimanapun.
FNB Bandung sendiri mulai muncul pada tahun 2004. Uniknya, kelompok ini menyediakan dan juga mendistribusikan makanan yang mereka olah bersama. Pendistribusian mereka lakukan di ruang-ruang publik dengan peralatan yang telah mereka siapkan sebelumnya.
"Kami sediakan makanan bukan hanya untuk orang miskin, siapapun yang ingin mencoba dengan senang kami layani," kata salah seorang sukarelawan FNB, Adi, di tengah Tabling, istilah kegiatan pembagian makanan gratis, di perempatan Jalan Merdeka dan Jalan Wastukancana, Bandung.
Dijumpai di sela kegiatannya, dua orang perempuan sibuk melayani pengamen dan juga anak jalanan yang berebut menerima makanan gratis yang disediakan. Seorang perempuan dengan logat kental Melayu, asyik berbincang dengan seorang laki-laki di sebelahnya. Sementara Ari, sibuk menawarkan makanan pada orang-orang yang melintas di sana.
"Selayaknya kita saling menghidupi dan bukan saling mematikan satu dengan lainnya," katanya.
Dalam obrolannya dengan detikbandung, Adi menuturkan kegiatan Makan Gratis merupakan agenda rutin FNB. Tahun 2009 adalah tahun ketiga mereka menjalankan agenda rutinnya tersebut.
Dalam setiap kegiatan sekarang, FNB membaginya di dua titik tabling, meski awalnya mereka mampu membaginya ke dalam empat titik pelayanan. Dua titik tersebut ditempatkan di Taman Cikapayang Dago dan perempatan Jalan Merdeka.
"Awalnya kita sediakan di empat titik, karena waktu itu volunteer sudah over jumlahnya. Tapi karena seleksi alam yang tinggal segitu," jelasnya.
Meski jumlah sukarelawan FNB menyurut dalam setiap kegiatan yang bergulir, bukan suatu halangan bagi Adi dan rekannya untuk menjalankan kegiatan rutin yang telah disepakati mereka yang bergabung.
"Kita nggak lihat jumlah, siapa yang mau ikut silakan, tanpa ada paksaan. Ini karena kita tidak memiliki ikatan siapa yang membuat keputusan," ujar Adi yang mengaku bingung ketika disinggung berapa jumlah sukarelawan yang saat ini bergabung di FNB Bandung.
Kabar-kabar komunitas di Bandung ada di Forumbandung.
(ahy/lom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar